Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Monday, 15 August 2016

Waktu adalah Waktu

Waktu adalah Waktu
Nurul Ikhsan


Waktu adalah desiran ombak
Berbisik lirih menggoda perasaan
Romantis seperti kencan pertama
Tapi sadis, menghapus semua jejak

Waktu adalah kubangan lumpur
Arena canda paling bahagia
Tertawa lepas walau kotor seluruh badan
Tapi sementara, sebab ibu akan marah

Waktu adalah mitos pelangi
Bidadari cantik turun dari kayangan
Semua orang berbondong mencarinya
Tapi khayalan, itu hanyalah cerita

Waktu adalah waktu
Sadis saat menunggu
Sementara terus berlalu
Khayal masa depan membelenggu

Saturday, 13 August 2016

Puisi Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Nurul Ikhsan


Pelangiku setelah hujan
Apa kabarmu hari ini?
Senyum indahkah kau pagi ini?
Bisik hati merusak warasku

Tak apakah aku ungkap itu dalam hati?
Aku yakin tak menganggumu dalam mimpi
Mimpi panjang tak tahu henti
Bahkan jika malam berganti pagi

Pelangiku setelah hujan
Tak apakah aku berharap kau terbangun lagi?
Aku yakin tak menganggumu untuk bermimpi
Karena sepi tak kumengerti saat kau pergi

Pelangiku setelah hujan
Aku mengerti kau tak lagi di dunia ini
Lalu kapan kita akan bertemu lagi?
Sebab waktu memang berganti, tapi rasa ini belum terhenti.

Wednesday, 10 August 2016

Puisi Bidadari Malang

Bidadari Malang
Nurul Ikhsan


Ada kala rindu ini mengekang
Menghimpit dibalik penyesaan
Merasuk hantui jiwa
Sebuah salah tanpa maaf

Wahai engkau bidadari malang
Boleh aku berkata jujur?
Sakit yang kurasa berlebihan
Karena engkau tak kunjung memaafkan

Wahai engkau bidadari malang
Bukankah ini keteralaluan?
Engkau sungguh malang
Mengotori cantikmu dengan kebencian

Aku hanya manusia biasa
Karma kurasa wajar
Bila perlu tusuklah jantung ini

Salahku telah jatuh cinta kepadamu

Tuesday, 9 August 2016

Puisi Waktu



Waktu
Nurul Ikhsan

Waktu adalah desiran ombak 
Berbisik lirih mengoda perasaan
Romantis seperti kencan pertama
Tapi sadis, menghapus semua jejak

Waktu adalah kubangan lumpur 
Arena canda paling bahagia
Tertawa lepas walau kotor seluruh badan
Tapi sementara, sebab ibu akan marah

Waktu adalah pelangi setelah hujan
Bidadari cantik turun dari kayangan
Semua orang berbondong mencarinya
Tapi khayalan, itu hanyalah cerita 

Waktu adalah waktu
Sadis saat menunggu 
Sementara terus berlalu
Khayal masa depan membelenggu

Monday, 8 August 2016

Puisi Bugis

Wala Suji
Nurul Ikhsan


Wala suji adalah jawaban
Terpasang sebagai pembuktian
Dari bambu lambang kekokohan
Kekokohan hatimu isyaratkan kepastian

Makna empat persegi mata angin
Mengerucut dalam kesempurnaan
Alam raya sebagai sulapa appa
Aksara hatimu saat ini

Wala suji adalah jawaban
Tentang ragamu yang akan terikat
Saat akad telah terucap
Selamat, aku berbalik lalu pulang.

Tana Ugi'
Nurul Ikhsan


Tana ugi' ancajingekku
Werekkada madeceng
Gau'-gau' sitinaja malebbi
Sipakatau', Sipakalebbi', Sipakainge'

Aku lahir, besar dan belajar
Bersama adat dan budaya
Cerminan pribadi Tau Ugi'
Rumpun yang sampai mati kucinta

Mari ke tanah kami
Kami suguhkan keramahan
Rumah kami adalah rumahmu
Tapi kami bukan budakmu


Tari Paduppa
Nurul Ikhsan


Engkau terlihat cantik hari ini
Wajah bercahaya indah dipandang
Ditambah senyum anggun merusak logika
Lalu elok tubuhmu terbalut baju bodo

Mata enggan berkedip melihat putri raja
Kau lenggokkan tubuhmu ikuti irama gendang
Sepertinya aku terlarut dalam fantasi tarianmu
Semua gerak tubuhmu adalah isyarat

Kau telah menari dalam hatiku
Tari Paduppa, dalam hatiku berbisik
Kedo sumange' lambang penghormatan
Aku terkagum wahai penariku